Persalinan


Alhamdulillah bergulir waktu hingga ku lihat kalender menunjukkan tanggal 14 Februari. Tepat disaat itu aku bertaruh nyawa, dua nyawa-diriku dan bayi kecilku. Hingga saat inipun saya masih merasa takjub dengan kuasa Allah, bagaimana Ia mengkaruniakan setiap pasang suami-istri dengan lahirnya anak sebagai ‘harapan’ dan ‘cita’ mereka. Di dalam rahim yang sempit dan gelap, Allah pelihara janinku. Meski kehamilanku tidaklah mudah (diwarnai muntah yang parah-tapi tidak sampai dehidrasi dan dirawat) saya merasa bahagia, merasa ada yang menemaniku sepanjang hari meski saya belum pernah bertemu dengannya, rasa sayang itu semakin tumbuh.

entah bagaimana saya merasa bahwa bayiku ini begitu pengertian dan kuat, selama kehamilan tak pernah ku merasa direpotkan. bila banyak ibu hamil yang mengeluh kecapekan dan bahkan sakit2an. alhamdulillah saya merasa kuat, capek memang terasa tapi hatiku bahagia. pulang pergi bojongsari-senen setiap hari dibonceng motor oleh suami kulakoni hingga perut ini membesar kira-kira 36 minggu. perjuangan memang, tak jarang perut merasa sakit apalagi bila terbentur dg polisi tidur atau lubang. punggung yg terasa ingin retak… semuanya ku lalui dengan hati ikhlas dan bahagia untuk persiapan mu kelak di dunia ini nak..

tiba saatnya cuti, hari rabu-12 Februari 2014, saya ditemani suami dan kakak ipar melaju ke bandar lampung, sempat bimbang karena kehamilan yg sudah tua, khawatir bila melahirkan dijalan bahkan dikapal -_-. tujuh jam lamanya perjalanan darat diselingi naik kapal laut.. saya dan suami masih sempat foto2 dikapal. memang terlihat perutku sudah di bawah (hem.. bahasanya gimana ya hehe). sesampai di bandar lampung, juga ditemani kakak, periksa ke dokter kandungan.. hasilnya sungguh mengejutkan. kala itu dokter bilang bahwa bayi mungil di perutku masih kecil 2,3kg saja (padahal hasil USG terakhir di jakarta oleh 2 dokter beratnya 2,7kg ) dan hampir tidak mungkin kalau melahirkan dalam waktu dekat, perkiraan bisa 1 bulan kemudian. bingung dan ragu dengan penjelasan dokter tersebut, saya mencari second opinion ke dokter yang lebih senior (dokter ini pernah menangani kakak saat keguguran dulu). daan.. dokter kedua pun mengamini opini dokter sebelumnya. bahkan sempat dibilang bahwa menurut perhitungannya (berdasarkan hari terakhir mens) akan lahir tanggal 14 februari yang tak lain tak bukan LUSA!

Baca lebih lanjut

Bercermin secara Jujur, Berani?


jujur pada diri sendiri, aku akui sangatlah sulit awalnya. takut mengenal diri lebih dekat. ego ingin terlihat atau dianggap baik membutakan mata untuk bercermin secara jujur atas kekurangan diri, ujung-ujungnya adalah penyesalan karena kesalahan2 yg sama terulang lagi. kenapa? karena tak mau introspeksi diri, malu mengakui kelemahan diri dan malas memperbaikinya. ya itu yang ku rasakan.. dua tahun menjadi seorang istri sekaligus satu tahun menjadi ibu membuatku jatuh bangun. tawa dan duka beriringan dalam hari-hari ku. baik diketahui maupun tidak oleh orang2 sekitar bahkan suamiku sendiri. hari-hari yg berganti tahun tersebut ku penuhi dengan rasa sesal, hingga sampai pada titik dimana aku berani bercermin secara jujur siapa diriku. kontemplasi,,,

tepat tanggal 14 februari ini adalah satu tahun usia bujangku, satu tahun aku memeluknya, satu tahun aku membesarkannya, satu tahun aku memandang wajah malaikatnya… bunda ingin hari-hari esokmu lebih baik dari 1 tahun ini nak,, bunda ingin bangkit, bunda ingin berjalan tegak, bunda tak ingin lagi bersembunyi dalam tameng mengasihani diri sendiri.
resolusi hidupku dimulai dari mu nak…