Kenapa Aku Menikah

Ini adalah komentarku pada post sahabatku yg sedang bimbang akan langkah besar dihidupnya,, aku tulis ulang di di sini sebagai pengingat bagiku sendiri….

hidup itu misteri nda, satu jam kedepan pun kita gak tau apa yg akan terjadi bisa sedih bisa bahagia. yang bisa kita usahakan adalah melakukan yg terbaik saat ini, sembari merajut impian indah dimasa depan.

jika kita takut melangkah hanya karena sesuatu yg belum pasti atau keadaan kita sekarang yg terasa sulit, kita gak akan pernah maju, stagnan ditempat. mungkin hanya bergeser satu dua langkah saja. padahal masa depan bisa kita rencanakan, bisa kita usahakan. roda itu berputar, pahit manis itu biasa, jatuh berkali-kali itu pasti, pilihlah untuk terus berdiri tegak karena ada Allah yg melihat kita. usaha kita takkan sia-sia, meski orang lain melihatnya sia-sia.

menikah itu indah, bayangkan sebelum pacaran hanya sebatas dua insan yg saling menyukai tanpa ikatan apapun. tentu ada jarak diantara keduanya. meskipun hubungan itu indah dibalut kata-kata manis nan romantis, namun tetap hubungan itu belumlah menjadi apa-apa. hingga ijab qabul.

aku gak bilang menikah itu selalu senang, selalu tertawa, selalu dihiasi kata-kata manis nan romantis, selalu dihiasi canda tawa manja. menikah itu indah karena ada dalam wadah syar’i yang tiap detiknya diperjuangkan oleh suami-istri untuk menyempurnakan agamanya. tiap detiknya insyaAllah bernilai ibadah.

kenapa menikah tidak disebut menyatukan dua insan? tapi lebih disebut menyempurnakan agama masing2 individu??karena didalamnya banyak sekali hal-hal yg belum pernah kita jumpai ketika kita single. ada tanggung jawab besar yg mesti kita emban sebagai istri/suami. kita dihadapkan dg begitu banyak persoalan dan disaat itulah keimanan kita diuji.

jika saat single kita bertanggung jawab hanya pada diri sendiri (disamping pada orangtua/keluarga), baik pada kesehatan fisik, mental dan rohani diri kita sendiri, namun tatkala sang pangeran mengucapkan ikrar suci pernikahan dan sahlah kita menjadi istri maka sejak detik itu pula kita turut bertanggung jawab atas keselamatan dunia dan akhirat keluarga kita.

dulu kita berpikir bagaimana kita makan, bagaimana kita tidur, bagaimana baju-baju, makeup kita, bagaimana jalan2 kita, kini kita berpikir untuk dua orang, selain tetep ya mikir juga ttg diri sendiri. belum ditambah bila ada calon baby. pusinglah kepala barbiešŸ˜€

pusing, bagus itu, tandanya otak bepikir, bayangkan seorang istri berpikir dari urusan perut, pakaian, listrik, hingga odol hehe.. belum lagi bila ia sebagai pengambil keputusan dan kebijakan dalam keluarga. karna biasanya hampir seluruh macam hal istri akan memikirkan (naluri perempuan kali ya) tentu dg berbicara dg suami.

kembali lagi, nikah itu ibadah, yak! seperti melayani suami ibadah, merapikan rumah ibadah, jalan2 sama suami juga. tapi… ada juga yg tak melulu senang2, alias menguras emosi. kala istri harus bekerja membantu perekonomian keluarga, sama banting tulangnya dengan suami, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, mengasuh anaknya, memikirikan segala macam tetekbengek rumah tangga, belum lagi bila orang2 disekelilingnya begitu “perhatian” padamu yg entah sadar atau tidak justru sering melukai perasaanmu. tenagamu, pikiranmu, emosimu terkuras. saat kau butuh tempat mengadu, pelukan hangat kau menanti suamimu pulang dari tempatnya bekerja, namun saat ia pulang, kau dapati dirinya yg kuyu kelelahan dg raut muka yg masam karna berbagai persoalan di tempat kerjanya tadi. kau tahan dirimu, perasaanmu, dg terlebih dulu merangkul suamimu, membuatnya nyaman. hingga nyamannya ia terlelap dg raut wajah yg tenang. sedang engkau masih menyimpan setumpuk emosi didadamu. itu pilihan! bisa saja kau tumpahkan emosimu, pengaduanmu tatkala suami pulang. mungkin saja suamimu teramat sayang padamu dan akan mendengarkan segala keluhkesahmu dan menyimpan penatnya dalam2 demi dirimu. atau bisa jadi saling mencurahkan penat bergantian. itu juga pilihan! dan kaulah yg dapat memutuskan atmosfir rumahmu.

ada lagi. komunikasi. sudah menikah dan sah berlabel nyonya X bukan berarti kau aman sentosa tenang dalam aktifitasmu. naluri perempuanmu akan selalu ingin dimengerti, ingin didengar, ingin diperhatikan. kadangkala tak kau jumpai suamimu yg hangat, selalu menyapa “sayang” padamu, selalu mengirimkan sms/wa atau telpon menanyakan kabarmu, atau menjawab pesanmu. kau akan tergelitik, menanyakan dalam hati “kenapa, ada apa?” nalurimu,,

bila saat pacaran, tanpa diminta ia bersedia menjemputmu, menghubungi berkali2 dalam sehari, berkali2 mengatakan rindu/kangen, namun beda saat ia telah menjadi suami, berangsur-angsur kebiasaannya itu akan berkurang atau hilang.. mampukah kau bersabar atas itu? mampukah pikiranmu tetap jernih berprasangka positif bahwa mungkin suamimu begitu sibuk mengejar impian2 kalian berdua untuk hidup lebih baik dimasa mendatang hingga ia bekerja lebih keras dari sebelumnya.

jangan takut terkukung waktu, libatkan anak dan suami dalam ‘permainan membersihkan rumah, atau masak bareng’, kamu akan diliputi rasa haru tatkala melihat suamimu dg gagap membantu mencuci baju, melihat tangan-tangan mungil anakmu merapihkanĀ  mainannya sendiri, sembari lempar canda. kau akan keburu merasa kenyang tatkala suami dan anakmu membuka mulut lebar-lebar melahap suap demi suap makanan yang kau masak. daan,, akan kau dapati perasaan yg begitu damai sembari bulir kecil dimatamu jatuh tatkala menatap wajah polos suami dan anakmu yang tertidur merangkul wanita hebat versi mereka.

banyak sekali hal-hal kecil maupun besar yg akan menjadi bumbu-bumbu dalam rumah tangga, namun semua itu bukanlah hambatan hidup atau masalah melainkan anugerah dari Allah yang menghadirkan mereka (suami dan anak2) sehingga kita tak perlu mengarungi hidup ini seorang diri..

kesimpulannya,, akan banyak suka ketimbang dukanya, duka/pahit itu perlu ada agar kita diingatkan untuk senantiasa bersyukur dan banyak2 berdoa pada-NYA. hidup itu tak bisa kita kalkulasi secara matematika karena berkah dan karunia Allah melampaui nalar manusia.

jangan takut tuk miskin, takutlah bila tak mampu qanaah atas limpahan rizki halal yang Allah berikan pada keluargamu melalui usahamu. takutlah bila tak mampu bersyukur, dan takutlah dari putus asa akan rahmat-NYA (janji Allah yang pasti bagi tiap-tiap pasangan yg menikah).

Tak perlu menjadi wanita sempurna untuk menikah dan menjadi istri maupun ibu, jadilah dirimu sendiri dengan terus belajar menjadi istri dan ibu yang baik.

satu hal yang perlu kau miliki dan harus besaaaarrr sekali stoknya adalah sabar.

maaf ya nda jd panjang banget niiih…

dari ku, seorang istri dan ibu yang berkali-kali jatuh bangun, aku bukan istri dan ibu yg sempurna tapi ku berupaya bangkit dan berjalan tegak demi keluargaku.. karena kehadiran mereka membuat hidupku lebih berarti, untuk pertama kalinya….

Ā salam sayang nda :-*

2 thoughts on “Kenapa Aku Menikah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s