BPJS, Benarkah Rumah Sakit Nombok?

Banyak yang sudah punya kartu BPJS, tapi masih takut-takut memanfaatkannya. takut bila rumah sakit akan membedakan perlakukan. takut dokternya galak, takut kalau alat-alatnya dibedakan, takut kalau obat-obatnya dikasih yg murah bukan paten, takut tindakannya ada yg berbeda, takut kualitas layanannya diturunkan…

silahkan simak penuturan dr. Widya Putri, MARS, Ketua Persatuan Rumah Sakit Kota Batam. dari situ masing-masing kita bisa mengetahui pandangan pihak rumah sakit terhadap BPJS itu sendiri dan tentunya berimplikasi pada pengguna BPJS.

sumber: http://blog.awalbros.com/?p=2101

Berikut wawancara Batam Pos dengan dr. Widya Putri, MARS, Ketua Persatuan Rumah Sakit Kota Batam. Widya juga menjabat Direktur RS Awal Bros Batam. Saat wawancara ia didampingi Manager Business & Development RS Awal Bros Batam dr Shinta Trilusita:

Setelah berlangsung tiga bulan, apa pengalaman rumah sakit terhadap BPJS Kesehatan?

Kami Persi sering melakukan koordinasi dengan pemerintah kota dan pemerintah provinsi. Dalam rapat itu kami menyampaikan berbagai kendala RS swasta dan RS daerah. Di RSAB yang menjadi masalah adalah pada critical careseperti ICU, HICU, NICU yang jumlahnya terbatas.

Dalam tiga bulan, RSAB mengalami peningkatan jumlah pasien. Karena itu kami sampaikan untuk perawatan kritis, kami memberikan kuota. Karena kalau tidak kami hidup dari mana? Kami harus menyiapkan pasien lain yang kritis. Misalnya pasien pascastroke yang habis operasi besar, mereka kan harus masuk ICU.

Untuk pasien BPJS kami menyiapkan empat kamar dari 10 kamar critical care. Perawatannya tak hanya seminggu dua minggu, tapi 60 hari, 30 hari, dan dapat menghabiskan ratusan juta. Harus diakui BPJS tidak menanggung sebanyak itu, tapi hanya 30 juta. Sementara yang kita habiskan bisa sampai 200 juta. Sebaliknya di bagian rawat inap tidak ada masalah.

Dari pihak rumah sakit, bagaimana menyesuaikan sistem BPJS?

Kami di RS swasta menekankan pelayanan basic need (kebutuhan dasar) dan bukan kenyamanan. Dari Kemenkes juga disebutkan bahwa bukan kenyamanan. Kalau mau nyaman, silakan di VIP atau kelas 1. Kebutuhan dasar itu di antaranya dokter, obat, dan pemeriksaan.

Apakah standar kebutuhan dasar masing-masing RS berbeda-beda?

Itu terserah mereka karena yang diwajibkan Kemenkes adalah kebutuhan dasar untuk sembuh. Untuk ke rumah sakit kita harus mendapat rujukan PPK 1. Hanya masyarakat tidak mau repot sehingga mereka langsung ke rumah sakit. Seperti itu tidak bisa karena dimanapun sistem rujukan harus seperti itu. Masalah PPK 1 tidak sampai 24 jam, itu tergantung negosiasi dengan BPJS.

Jika ada kasus, pasien yang datang tidak memenuhi kriteria emergency BPJS sehingga akhirnya dia sepakat untuk tidak bayar dulu. Tapi dari dokter disarankan untuk rawat inap. Apakah biaya rawat inapnya itu ditanggung BPJS?

Shinta: Memang peraturan BPJS itu selalu harus ada rujukan. Jika untuk kepentingan observasi, disarankan unutuk rawat inap biasanya kita koordinasi langsung dengan dokter BPJS yang ada di RS. Kalau memang betul-betul butuh rawat inap, dari BPJS memang mengeluarkan kartunya. Tapi ada rujukan jadi keluarganya yang mengurus.

Memang untuk perawatan di UGD, jika tak masuk kriteria BPJS, tidak ditanggung. Tapi kalau rawat inap, banyak pasien yang sebenarnya bisa ke PPK 1. Hanya, masyarakat mungkin ada  yang belum paham atau ingin cepat sehingga mereka langsung ke UGD. Staf kami di UGD akan langsung mengabari jika tidak masuk dalam kriteria UGD.

Widya: Tidak ada BPJS pun kami juga memiliki kriteria sendiri. Karena kalu hanya batuk pilek kemudian masuk ke gawat darurat bakalan ramai. Kasihan pasien yang gawat darurat. Ada sistem penilaian prioritas, Emergency System index. Dari situ diketahui prioritas yang harus didahulukan.

Pada masa Jamsostek dan Askes, seperti apa sistem tanggungan gawat daruratnya?

Sama (dengan BPJS). Cuma ada yang belum terbiasa. Sistem rujukan itu kan sebenarnya sudah lama karena kalau tidak nanti kita jadi puskesmas raksasa. Masing-masing ada bagiannya. Kalau batuk pilek saja, kenapa harus dibawa ke rumah sakit. Kecuali yang tidak sembuh-sembuh.

Dalam tiga bulan pertama, bagaimana kesan rumah sakit terhadap BPJS?

Kesannya minimalis dengan keterbatasan ini. Misalnya untuk rawat jalan. Dengan Rp 160 ribu hingga Rp 200 ribu, apa yang dapat dilakukan dengan rawat jalan sekarang? Belum jasa laboratoriumnya. Misalnya ibu hamil, mesti di –USG. Kesan minimalis juga terutama untuk critical care dan rawat jalan. Kalau rawat inap tidak masalah, masih bisa kami akali.

Bagaimana perkembangan pembahasan tarif baik tingkat Batam atau Kepri?

Kita sudah mengusulkan dalam surat pengajuan revisi. Wali Kota kemarin sudah membantu menyampaikan hal ini ke Menkes. Inilah yang kita tunggu.

Keberatan apa dari sisi rumah sakit?

Tidak mencukupi untuk melakukan semua prosedur (advance). Kalau dulu misalnya dari tahap satu ke empat harus melalui dua dan tiga, sekarang langsung sampai ke empat. Itu yang namanya efisien dan efektif. Dokternya juga belajar. Untuk saat ini kami memang ingin melihat dulu secara keseluruhan.

Dalam tiga bulan pertama, setiap tanggal berapa pemerintah membayar klaim JKN?     

Pemerintah seharusnya setiap tanggal 10 sudah harus selesai. Kita juga sudah harus memasukkan invoice, diverifikasi, baru dibayarkan. Mereka membantu dengan memasukkan dulu uang mukanya 50 persen ketika kita membayar invoice. Nanti 50 persen lagi setelah mereka verifikasi.

Apakah Januari dan Februari sudah lunas klaimnya?

Untuk Januari klaimnya 75 persen. Untuk klaim Februari baru Maret ini kami masukkan.

Berapa tingkat kenaikan pasien sejak ada fasilitas BPJS?

Sekitar 30 persen BPJS. Sedangkan 70 persen lainnya itu perusahaan yang nanggung. Rumah sakit kita bisa saja untung kalau dia tidak punya ICU. Seperti RS tipe C. Yang seperti itu kan bisa memberikan rujukan kalau ada pasien yang membutuhkan ICU. Sementara kami, ICU ada empat.

Dari jumlah pengguna BPJS, apakah ada kenaikannya?  

Sekitar 30-35 persen.

Jika dibandingkan BPJS dan asuransi swasta, mana yang lebih menguntungkan rumah sakit swasta?

Semuanya puunya sisi plus minus. Tidak semua yang ditanggung. Cuma si pasien sudah tahu apa hak yang akan mereka dapatkan. Cuma, BPJS itu berkoar semua layanan itu boleh. Tapi kita kan punya alat canggih. Jadi kami harus pintar-pintar juga memilih, kapan harus dipakai kapan tidak.

Jika dibandingkan, mana yang lebih menguntungkan dalam rawat inap, paket BPJS atau pasien yang bayar sendiri?

Lebih banyak keuntungan yang bayar sendiri. Kalau BPJS kan marginnya kecil. Sementara untuk pasien umum, kamarnya bisa full.

Apakah fasilitas perawatannya berubah? Misalnya ada rumah sakit yang tidak lagi memberikan obat selama 30 hari seperti Jamsostek dulu.

Semuanya sebenarnya sama, ada kunjungan dokter, ada makan, ada kamar. Di tempat kami tidak bisa dibedakan mau pakai AC atau tidak, karena semua ber-AC. Air panas semua juga dapat.

Apa yang membedakan? Apakah dari sisi obat atau nutrisi?  

Dari sisi obat. Karena nutrisi itu kan wajib. Obat itu harus mengikuti Formularium Nasional.

Apakah ada pembatasan kunjungan dokter?

Tidak ada sih. Semua ada kunjungan sekali. Tapi memang yang paling siang itu jam 2.

Apakah ada pembatasan untuk rawat inap?

Tidak. Tergantung kasusnya berapa lama rata-rata rawat inapnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s