Cara Bantu Anak Jadi yang Terbaik yang Ia Bisa


kid2

Thomas Armstrong, Ph.D, seorang ahli di bidang Multiple Intelligences mengatakan seringkali orang tua datang kepadanya dan menceritakan bahwa sekolah anak mereka menghubungi mereka dengan beberapa permasalahan. Misalnya masalah dengan perilaku, perhatian atau proses pembelajaran mereka. Dan pihak sekolah ingin anak-anak diuji.

Meskipun beberapa tes akan membantu anak-anak dalam mendapatkan perlakuan khusus, Armstrong merasa bahwa melakukan tes pada saat ini terlalu terfokus pada apa yang anak-anak tidak bisa lakukan daripada apa yang mereka dapat lakukan.

“Saya percaya bahwa setiap anak memiliki banyak cara untuk menjadi cerdas dan berhak mendapatkan kemampuan mereka belajar untuk dikenal, dipuji, dan dipupuk,” ujarnya dalam acara talk show bertema #BedaAnakBedaPintar : Memahami Multiple Intellegences dan Peran Nutrisi, di Jakarta, Kamis (1/10).
Studi di Universitas Harvard mendukung hal ini, yaitu bahwa anak-anak dapat mendemonstrasikan kecerdasan melalui berbagai cara – melalui kata-kata, angka, musik, gambar, kemampuan atletik atau “ketangkasan”, serta perkembangan emosi dan sosial.

Sebagai orang tua, Anda dapat memainkan peran penting dalam membangkitkan kemampuan belajar yang terpendam tersebut atau mengembangkan kepiawaiannya saat ini melalui pengalaman yang Anda berikan kepada anak Anda di rumah. Berikut adalah 15 cara untuk memunculkan yang terbaik dalam diri anak Anda.
1. Biarkan anak Anda menemukan minatnya sendiri. Perhatikan aktivitas yang dipilihnya. Kesempatan untuk bermain bebas ini dapat banyak menunjukkan dimana kemampuan khusus yang dimilikinya.

2. Perkenalkan anak Anda ke berbagai jenis pengalaman yang luas cakupannya. Hal ini dapat mengaktifkan kecerdasan pembelajaran laten mereka. Jangan berasumsi bahwa dia tidak cerdas di area tersebut hanya karena dia tidak menunjukkan minat.

3. Berikan kesempatan anak Anda untuk melakukan kesalahan. Jika dia harus melakukan semuanya dengan sempurna, dia tidak akan pernah mengambil risiko untuk menemukan atau mengembangkan kemampuan pembelajaran khususnya.

4. Bertanyalah. Bantu anak Anda untuk menjadi terbuka kehal menarik di dunia dengan menanyakan beberapa pertanyaan seperti: Kenapa langit berwarna biru? Temukan jawabannya bersama.

5. Rencakan kegiatan keluarga bersama. Kreativitas bersama dapat membangkitkan dan mengembangkan potensi pembelajaran yang baru.

6. Jangan paksa anak Anda untuk belajar. Jika anak-anak dikirim ke kursus khusus setiap hari untuk belajar dengan harapan mereka dapat mengembangkan kemampuan belajar mereka, mereka mungkin bisa menjadi terlalu stress atau lelah untuk bersinar. Semangati, namun jangan paksakan.

7. Sediakan lingkungan yang kaya dengan penginderaan. Sediakan materi di sekeliling rumah yang dapat merangsang indera seperti cat jari, alat perkusi, dan boneka atau wayang.

8. Jagalah minat belajar Anda agar tetap hidup. Anak Anda akan terpengaruh dengan contoh yang Anda berikan.

9. Jangan mengkritik atau menghakimi apa yang dilakukan anak Anda. Dia dapat menyerah jika merasa dinilai.

10. Bagi dan ceritakan kesuksesan Anda kepada keluarga. Membicarakan tentang hal baik yang terjadi hari itu dapat berguna untuk meningkatkan kepercayaan diri.

11. Dengarkan anak Anda. Hal yang sangat dia pedulikan dapat memberikan petunjuk tentang kemampuan spesialnya.

12. Jangan suap anak Anda dengan hadiah, memberikan insentif agar anak dapat meraih sesuatu menandakan bahwa pembelajaran tersebut sebenarnya tidak bermanfaat.

13. Hindari membandingkan anak Anda dengan anak lain. Bantu anak Anda untuk membandingkan dirinya dengan pencapaian masa lalunya.

14. Berikan anak Anda pilihan. Itu akan memupuk tekad dan mendorong inisiatif.

15. Bermainlah dengan anak Anda untuk menunjukkan cita kejenakaan Anda.

“Dengan mengikuti petunjuk ini akan membantu memastikan anak Anda menjadi apapun yang dia inginkan dalam hidup,” ujar Thomas Armstrong, Ph.D.

Sumber Republika

Wajah malaikat


liat wajah nizam dengan beragam ekspresi seharian gak akan pernah buat ku bosan. lucu. mulai dari wajah merayunya, senyum genitnya, kening yang dikerut-kerutkan kayak orang tua lagi mikir, ekspresi lagi ngupil, wajah bengong melongo, senyum cerdik kala berhasil menumpahkan air dan tawa ngakak membahananya, semua itu bunda suka!

tiap menit rasanya pengeen terus sama nizam. kalau dipikir-pikir, malah aku yang seakan butuh pelukan nizam. rasa bahagia kala nizam menghampiriku ingin dipeluk itu buat nagih. sensasi dibutuhkan. gak kerasa nizam sudah semakin besar. sudah banyak hal yg bisa ia lakukan sendiri. banyak pula kata yang ia ucapkan walau tak ada seorangpun yang mengerti maksudnya haha… tapi itulah nizamku. selalu bercerita dengan bahasa bayinya dan aku tetap suka!

aku juga sangat suka memandang wajahnya kala nizam tertidur lelap, terlihat semakin ganteng, hihii… aku selalu menciuminya dan memeluknya saat ia tidur. seneng banget bisa bersama-sama nizam. penyemangatku.

beberapa hari belakangan ini, nizam lagi kurang sehat. sempat seharian gak mau minum susu sedihnya. makan pun sedikit. rewel banget, mana suami lagi dinas. sedih kalau cuma sendiri, karena aku gak tegaan kalau nizam kenapa-kenapa. gak kuat walau nizam cuma kena pilek rasanya itu… nizam juga sempat diare, alhamdulillah hanya dua hari. sebelum tidur nizam aku kerok pake bawang merah. nizam gak protes. bahkan tadi malam minta dikerokin lagi, kalau berenti ngerokin nizam marah. setiap malam aku urut dan kerok pakai minyak telon+bawang merah dipunggung, perut, tangan dan kaki. terlihat ggbanget nizam menikmati 😀 dia diam, eh gak lama langsung pules bobo.. memang kerokan itu mujarab banget ya, obat turun temurun walau katanya cuma mitos tapi faktanya memang kerokan membuat badan jadi enak. apalagi kemarin baru baca detik(dot)com, hasil penelitian kerokan di fakta ilmiah kerokan

Berkebun


InstagramCapture_b68d4b13-1ed0-494e-ab28-67e265133a6bSiapa yang tak suka melihat rimbunnya pepohonan hijau yang menyejukkan mata dan hati? Saya paling suka jalan-jalan ke tempat bernuansa alam seperti puncak pegunungan, persawahan, air terjun, taman bunga, dan juga pesisir pantai. Hem.. tak akan pernah bosan. Hari ini Nizam berkebun untuk pertama kalinya. Seusianya, kegiatan berkebun tentu sangat menyenangkan sekaligus melatih motorik halusnya. Nizam menggenggam, meraba tanaman maupun tanah, dan belajar menyiram tanaman. Kegiatan ini akan mengajarkan Nizam untuk menyayangi alam, termasuk tanaman yang ada di sekelilingnya untuk dirawat agar tumbuh menjadi tanaman yang cantik.

Tak ada kata terlalu dini untuk mengenalkan alam pada anak kita. Ayo pakai sepatumu, mari kita berkebun! Yeay!!

Daycare!


Tuntutan ibu bekerja sangat tinggi, disamping ia sebagai pegawai yang harus menaati jam kerja (7.30 – 17.00 WIB belum termasuk bila ada tambahan pekerjaan), juga harus menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai istri dan ibu. Karena itu hadirnya daycare sangat membantu ibu yang bekerja dalam menitipkan buah hatinya kepada pihak yang dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Salah banyak aku memilih untuk menitipkan Nizam ke daycare adalah agar tenang dan tentram, tenang meninggalkan Nizam dalam asuhan orang-orang yang tepat, dan tentram karena pastinya Nizam akan terurus dengan baik. Alhamdulillah menemukan daycare yang sangat dekat dengan rumah kira-kira 1 km saja, dan asiknya lagi lawan arus so gak akan ketemu macet deh. Lingkungan daycarenya pun hommy banget dalam sebuah komplek, sehingga anak-anak nyaman dan aman jalan-jalan sore disekitaran komplek.

Baca lebih lanjut

Come back!


Rasanya waktu berjalan teramat lama saat hari demi hari terlewati tanpa kehadiran bujang Nizam di sisiku. Hampir tiga bulan mutiara hatiku, pelipur laraku, penyejuk mataku, jantungku ku titipkan ke ibunda tercinta. Keputusan yang teramat sulit untuk diambil, tapi berkali-kali aku menguatkan diri bahwa ini keputusan yang tepat – sementara waktu- jangan egois pada diri sendiri, beri kesempatan untuk Nizam ‘pulih’ menguatkan jiwa dan raganya.

Beberapa bulan lalu diusianya telah menginjak 1 tahun, Nizam harus dirawat, tiga hari tangan mungilnya harus terpasang infus. Tercabik-cabik hati ini saat melihat Nizam yg lemah dan menangis sakit. Panas tinggi dan batuk berdahak yang menyerangnya, sukses membuat Nizam tidak mau makan. Badannya menjadi kurus. Duh,, hati ibu mana yang tak berduka…

Baca lebih lanjut

Kembali bersama


kadang kala terbesit dalam hati ingin segera pindah menyusul nizam yang sudah dua bulan di lampung. rasanya tentram sekali tiap kali pulang mengunjungi nizam dan nenek. jauh dari macet dan bisingnya ibu kota. selepas sakit yang memaksa nizam harus dirawat 3 hari di rumah sakit, memang sudah diputuskan untuk menitipkan nizam ke nenek, dengan niatan bisa lebih terurus sekaligus pemulihan dari sakit thypus (dugaan) dan batuk yg mengakibatkan paru-parunya kurang bersih. tiap hari bergelayut dengan rasa kangen, sesekali tanpa sadar menyebut namanya. berkali-kali memandang foto dan videonya, tiap hari pula menelponnya, tapi rasa rindu itu tak mampu terhapus.

selalu ada kekhawatiran jika saja nizam akan menolak bersamaku, takut ia tak mengenaliku lagi karena pertemuan kami yang berlangsung dua minggu sekali. namun, kekhawatiranku itu sirna tatkala setiap kali ku menjenguk, nizam selalu nempel dengan ku, gak mau sama yang lain, dan akan selalu menarik tanganku agar bersamanya. rasanya bahagia karena aku tak tergantikan. sering ku lihat dan dengar anak-anak yg diasuh neneknya/pengasuh akan lengket dengan mereka dan menganggap ibunya bak orang asing. tapi hal itu tak terjadi padaku, alhamdulillah.

anakku tumbuh semakin cepat, banyak hal telah ia pelajari. dalam hatiku, aku tak ingin kehilangan momen-momen indah masa kecilnya, karena hal itu takkan terulang, anakku akan tumbuh menjadi seorang remaja dan pria dewasa yg ku sadari betul bahwa ia perlahan-lahan akan menarik jarak dariku. usahaku tak akan pernah berhenti untuk kita bersama-sama lagi dengan kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. aku tau anakku membutuhkanku, sama halnya diriku pun membutuhkan kehadirannya.

insyaAllah minggu depan kita bersama-sama lagi ya nak… setiap hari…

Aku Ingin Ibuku Memanggilku….


Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.

Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun.

Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika “Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng.

“Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya

“Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit.

Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

Angka kecerdasan rata – rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek – aspek kemapuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 – 160.

Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut Psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu Psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian.Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku :….”
Dikapun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja”

Baca lebih lanjut

Ikhlaskah Kita Berumah Tangga?


Sumber: http://indiraabidin.com/

Saat menikah, sesungguhnya apa yang kita cari?

Suami berpenghasilan rendah, kurang tinggi jabatannya, istri tak lagi seksi, kurang pandai masak atau mandul menjadi alasan cepat untuk bercerai. Jadi menikah itu untuk cari pangkat atau prestis kah?

Tidak cukupkah Allah sebagai alasan kita menikah?

Sedemikian sulitkah untuk menerima kondisi pasangan sesuai pilihanNya? – (dan kita yang turut mengambil keputusan-pen)

Rumah tangga yang dibangun hanya untukNya bertujuan mendapat ridloNya untuk menggapai surgaNya melalui rumah tangga yang dibangun.

Bahagia dalam rumah tangga datang dengan adanya rasa syukur atas apa yang ada, penghargaan terhadap kebaikan sekecil apapun. Dari kerja sama menggapai cinta kasihNya dalam bahtera rumah tangga.

Selama tak ada pelanggaran atas ketentuanNya, selalu ada ruang untuk berbuat kebaikan, kebenaran, saling mengingatkan dalam kebenaran, kebaikan dan kesabaran.

Kita simak cerita ini yuk…

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

“Assalaamu’alaikum…!” Ucapnya lirih saat memasuki rumah.

Tak ada orang yang menjawab salamnya. Ia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur. Biar malaikat yang menjawab salamku,” begitu pikirnya.
Melewati ruang tamu yang temaram, dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas, ponsel dan kunci-kunci di meja kerja.
Setelah itu, barulah ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Sejauh ini, tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun. Rupanya semua tertidur pulas.

Segera ia beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya.
Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadirannya.
Kemudian Amin duduk di pinggir tempat tidur. Dipandanginya dalam-dalam wajah Aminah, istrinya.
Amin segera teringat perkataan almarhum kakeknya, dulu sebelum dia menikah.
Kakeknya mengatakan, jika kamu sudah menikah nanti, jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan maumu. Karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya.
Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.
Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, maka lihatlah ketika istrimu tidur….
Baca lebih lanjut

Romantisnya…


Setiap hari deringan Hp pasti mewarnai pagi mamak.  Begitupula malam hari. kadang terpaksa harus ku tutup telponku bila Hp mamak kembali berdering. Biasa, dari pria yang paling mencintainya.  Pria yang tak pernah lupa dan bosan selalu menelpon ibuku dua kali sehari.  Sampai-sampai hapal jam-jamnya.  Pernah suatu hari 24 jam tak ada kabar dari pria tersebut.  Ibu ku cemas, mencoba menelpon tapi tidak tersambung.

Ibuku selalu menanti telponnya, dan terlihat sangat senang mendengar suaranya. Suara pria yang jarang ia temui. pria itu adalah suaminya -> bapakku. Sebagai anak saya merasa hubungan mereka sangat erat. Dalam usia yang tak lagi muda (sudah kepala 5) keduanya masih sering lempar canda, saling memeluk, tak ada malu atau canggung mengungkapkan kasih sayang baik dalam kata maupun perbuatan. Sangat haru melihatnya. luar biasa, bapak begitu menjaga komunikasi, atau mamak yang membangun terlebih dulu? Entahlah.. Tapi rasanya rutinitas tersebut begitu indah, hal yang sering membuatku ingin merasakan diposisinya…

Keluargaku Bahagia?


Mewujudkan keluarga bahagia butuh komitmen, butuh perjuangan, tidak hanya dari istri, tapi suami, dan juga anak.  Tatkala frekuensi antara suami, istri dan anak tak sama, apa yang terjadi? semua menjadi serba salah, serba gak nyambung, serba gak nyaman.  Sang suami maunya begini-begitu dengan segala kesimpelan dan anti ruwetnya, sedangkan istri ingin segalanya itu sempurna dengan segudang keruwetannya, dan anak ingin semuanya menyenangkan baginya.  Andai saja masing-masing pihak mau mendengar dengan hatinya pasti bisa dengan mudah menyamakan frekuensi batin.  Saya pun masih merasa ini sulit.  Komunikasi bagi saya teramat penting, dengan bicara kita merasa dihargai, diperhatikan, didengar.  Kita pun ingin mengerti suami dan anak dengan berupaya mendengar apapun kata demi kata yang mereka ucapkan.  Namun, hingga saat ini frekuensi saya dan suami masih belum seirama.  Ada bentangan luas di antara kami yang menilai urgensi komunikasi dari kacamata yang berbeda.

Perempuan bisa 20.000 kata sehari sedangkan pria hanya 7.000, namun apakah itu menjadi pemakluman bahwa hari-hari diisi dalam diam? tak ada kata tanpa ditanya?  Dengan komunikasi yang baik, tentunya sebesar apapun masalah semestinya bisa diselesaikan tanpa harus menunggu esok pagi yang membuat emosi ikut terpendam dalam tidur malam.  Ujungnya pernikahan serasa basi, jiwa meradang, pikiran kacau, hidup berselimut masalah-masalah.

Pernikahan itu komitmen!  Komit setia dengan suami/istri.  Komit dengan cita-cita/visi/misi berdua.  Suami/istri tak bisa kembali pada masa lampau untuk mengulang menikah dengan orang lain.  Pernikahan harus berjalan maju, MOVE ON! menerima ketidaksempurnaan, menerima keunikan.

Seperti yang dikatakan Ibu Elly Risman, bahwa saat ini DIALOG menjadi sesuatu yang MAHAL.  Apalagi tantangan masa kini, GADGET.  Renungkan, berapa jam GADGET menyita waktu pasangan kita? anak kita? bahkan kita sendiri?  Ironisnya, saat berbicara/berdialog dengan pasangan MASIH sambil menggenggam gadget, hanya berupa lirikan sesekali saja dilontarkan pada pasangan.  Betapa tak bernilainya pasangan anda dibandingkan gadgetmu?

Bila hal ini dibiarkan berlarut-larut, hari berbilang minggu berbilang bulan dan berbilang tahun, tak pelak perkawinan akan retak, hambar, gersang!  Banyak sekali perceraian terjadi dikarenakan salah komunikasi.  Ada pihak yang merasa tidak diacuhkan.  Di saat itulah terbentang celah lebar komunikasi antara suami-istri yang memungkinkan masuknya pihak ketiga.  Padahal komunikasi pasangan adalah cerminan keluarga bahagia.  Hanya dengan sekali lihat dan mendengar gaya komunikasi sebuah keluarga, kita bisa menilai bahagia tidaknya keluarga tersebut.

Sayang, banyak pasangan yang lengah menjaga komunikasi!  Padahal setan akan mudah memanfaatkan situasi tersebut untuk memuluskan misinya tuk menjadi setan terbaik.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir Radiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air. Kemudian ia mengirimkan pasukannya. Yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Salah satu dari mereka datang kepadanya lalu berkata : Aku melakukan ini dan itu. Kamu tidak berbuat apa-apa ! kata Iblis. Kemudian salah satu dari mereka datang dan berkata : ‘Aku tidak meninggalkan orang itu sampai aku berhasil memisahkannya dari istrinya.’ Lalu Iblis memberinya tempat di dekatnya dan berkata : ‘Kamu adalah setan terbaik.’ (HR.Muslim,2813)

Seperti ucapan Ibu Elly Risman, Yuk dekatkan yang sempat jauh, sambungkan yang hampir retak, hangatkan yang mulai dingin, mesrakan kembali yang nyaris hambar agar tercapai keluarga bahagia.